Selasa, 05 April 2011 -

Memahami ciri-ciri hakiki bangsa adalah mutlak dan hendaknya usaha ini tidak dihalangi oleh rasa kebanggaan.

Bangsa Indonesia sedang mengalami distorsi wawasan kebangsaan yang mengarah pada krisis persatuan dan kesatuan nasional.  Keadaan ini menjadi perhatian dan harus segera di upayakan langkah intensif dan strategis untuk menumbuhkan kembali semangat persatuan dan kesatuan bangsa tanpa membedakan latar belakang suku, agama, etnis maupun golongan, seperti yang dilakukan melalui forum persaudaraan bangsa indonesia, seperti saat ini?.

Heteroginitas dan pluralisme yang ada pada bangsa Indonesia memang suatu realita tetapi hal ini bukan untuk dijadikan masalah tapi justru menjadi salah satu sumber kekuatan bangsa. Biarkan perbedaan-perbedaan itu ada dan tetap ada, karena perbedaan-perbedaan tersebut merupakan kekayaan dari bangsa indonesia.  Yang harus di usahakan oleh bangsa Indonesia adalah bagaimana perbedaan-perbedaan tersebut dapat tetap mempersatukan bangsa Indonesia dalam persatuan yang kokoh dan kuat.  Demikian intisari yang dibangun dalam kegiatan ini agar seluruh komponen masyarakat bersatu padu menciptakan suasana yang kondusif dalam keanekaragaman suku/ras, bahasa dan kebudayaan.

Faham kebangsaan, rasa kebangsaan  dan semangat 
kebangsaan.

Faham kebangsaan

Dewasa ini banyak beredar secara meluas istilah wawasan kebangsaan dan paham kebangsaan. Mana yang sebenarnya harus diterapkan oleh bangsa Indonesia untuk dapat menjaga keutuhan bangsa yang berbhinneka ini; Paham Kebangsaan atau Wawasan Kebangsaan? Marilah kita bahas persoalan ini.

1.         Pertama, marilah kita jawab pertanyaan yang mendasar, apa itu nasionalisme atau paham kebangsaan itu. Secara singkat dan populer nasionalisme atau paham kebangsaan itu adalah paham, aliran, pendirian, atau ajaran untuk mencintai bangsa dan negara sendiri dengan mewujudkan cita-cita nasional yang telah disepakati. Kecintaan itu dilandasi oleh kesadaran para anggota bangsa tersebut untuk secara bersama-sama ingin mencapai cita-cita, mempertahankan, dan mengabadikan identitas, integritas, serta mewujudkan kemakmuran dan kekuatan sebagai satu bangsa. Dari sinilah lahirnya semangat kebangsaan. Dari kecintaan yang tumbuh menjadi semangat dan cita-cita akan idealisme untuk mempertahankan bangsa dan negara itulah lahirlah’Patriotisme’. Karena itu nasionalisme akan punya arti bagi perjuangan suatu bangsa untuk mewujudkan keinginan, cita-cita atau ide bersama, yang secara populer disebut ’Cita-cita Nasional’, bila nasionalisme itu didukung oleh semangat patriotisme yang kuat.
Kita semua mengetahui bahwa nasionalisme atau paham kebangsaan itu bersifat universal. Artinya kita jangan salah mengira bahwa paham kebangsaan adalah monopolinya bangsa Indonesia. Semua negara-negara yang merdeka dan berdaulat, bangsa yang merdeka yang punya negara, punya tanah air, punya cita-cita nasional, maka dia memiliki paham kebangsaan atau memiliki nasionalisme. Jadi setiap negara yang merdeka dan berdaulat yang punya cita-cita, punya identitas dan integritas, pasti punya nasionalisme. Semua bangsa-bangsa yang mempunyai nasionalisme atau paham kebangsaan cita-cita nasionalnya itu diperjuangkan dan diwujudkan didalam kehidupan berbangsa dan bernegaranya. Karena itu tidak heran bila tiap-tiap negara memiliki nasionalisme-nya sendiri, sehingga nasionalisme itu bersifat universal dan bukan monopoli satu bangsa atau satu negara saja.
Tetapi marilah kita cermati bahwa tiap bangsa, tiap negara yang mempunyai nasionalisme itu, yang mempunyai cita-cita itu, nasionalisme atau paham kebangsaan yang ada pada tiap bangsa dan suatu negara itu didasarkan pada kondisi obyektif yang berbeda-beda. Oleh karena itulah maka nasionalisme atau paham kebangsaan di tiap-tiap negara mempunyai ciri-ciri yang berbeda.

2.         Faktor obyektif yang mendasari lahirnya nasionalisme didalam suatu negara adalah: faktor demografi, geografi, dan latar belakang sejarah(historical background).
a.         Demografi, berkaitan dengan jumlah penduduk (besar atau kecil), penyebarannya, strukturnya (homogen atau heterogen), budaya dan pandangan hidupnya
b.         Geografi, tempat bangsa itu lahir, hidup dan mempertahankan kehidupannya. Ada yang bentuk geografinya terkungkung oleh daratan, disebut land-locked country (Afghanistan, Swiss), sebuah benua atau daratan yang luas (India, Cina), satu pulau (Singapura) atau sebuah kepulauan yang besar (Indonesia).
c.         Latar belakang sejarah atau historical background. Karena sebelumnya dijajah, ingin melepaskan diri dari penjajah, atau karena gejolak politik sosial, revolusi industri atau terpaksa mengungsi sebagai akibat revolusi sosial. Ketiga faktor tadi; demografi, geografi dan latar belakang sejarah (historical background) yang berbeda-beda itulah yang menyebabkan nasionalisme yang lahir dan hidup di dalam suatu bangsa berbeda-beda dengan bangsa lain. Tiap-tiap nasionalisme di dalam suatu negara mempunyai ciri-ciri tersendiri.

Kalau kita bahas nasionalisme Indonesia atau paham kebangsaan Indonesia, sifat universalnya nasionalisme Indonesia adalah bahwa kita yang menjadi bangsa Indonesia ini seluruhnya mencintai tanah air Indonesia, mencintai negara Indonesia. Sebagai anggota suatu bangsa, kita semua menyadari bahwa kita mempunyai keinginan bersama, cita-cita bersama yang disebut cita-cita nasional yang ingin diwujudkan, dipertahankan, diabadikan sebagai identitas, integritas, kemauan dan kekuatan nasional, berdasarkan semangat kebangsaan Indonesia.

III.               PAHAM KEBANGSAAN INDONESIA (NASIONALISME INDONESIA)

Di depan telah disebutkan bahwa tiap bangsa memiliki nasionalisme dengan ciri-cirinya sendiri, begitu pun bangsa Indonesia. Marilah kita kaji dari faktor-faktor obyektif yang mendasari dan menjadi latar belakang lahirnya paham kebangsaan Indonesia atau nasionalisme Indonesia.


1.         Faktor Demografi
Bangsa Indonesia adalah satu bangsa yang terdiri atas rakyat yang jumlah penduduknya besar dan merupakan nomor empat terbesar di dunia. Hidupnya di pulau-pulau yang berjumlah 17,506 yang terhimpun di dalam satu Kepulauan Indonesia. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang bersifat pluralistik, terdiri dari beratus-ratus etnik atau suku bangsa dan dengan berbagai keturunan. Ada keturunan Arab, Cina, India dan Belanda. Sekarang, dalam era globalisasi lebih banyak lagi jenis rasnya, ada Amerika, Jepang, Korea, dan lain-lain. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang rakyatnya memeluk berbagai agama, ada yang Islam, Hindu, Buddha, Katolik, Protestan, bahkan ada yang masih menganut aliran kepercayaan tertentu. Tetapi semuanya percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Rakyat yang multi-etnik, multi-ras ini mempunyai pandangan hidup, kebudayaan daerah dan bahasa daerahnya masing-masing tetapi memiliki satu pandangan hidup sebagai satu bangsa. Faktor demografis demikian inilah yang membentuk bangsa Indonesia, dimana rakyat Indonesia yang pluralistik itu hidup bersama-sama, mempunyai keinginan bersama dan mempunyai cita-cita bersama. Itulah yang menjadi dasar terbentuknya nasionalisme Indonesia. Kondisi obyektif inilah yang memberi ciri khas kepada paham kebangsaan Indonesia, yang oleh para Bapak Pendiri (founding fathers) ini dirumuskan secara tepat: Walaupun berbeda-beda, tetapi satu jua, ‘Bhinneka Tunggal Ika’.

2.         Kondisi Geografis
Kondisi geografis Indonesia bukanlah sebuah land-locked country, satu negara yang terkungkung oleh daratan seperti Afghanistan atau Swiss, bukan pula sebuah benua atau daratan yang luas seperti Cina atau India, bukan pula satu pulau kecil seperti Singapura. Tetapi bangsa Indonesia lahir, hidup, bertahan hidup dan besar didalam lingkungan kondisi geografis sebagai satu Negara Kepuluan yang berciri Nusantara. Lingkungan dan kondisi geografis tanah air demikian itulah yang merupakan kondisi obyektif lahirnya rakyat Indonesia menjadi bangsa Indonesia dan berdasarkan lingkungan dan kondisi geografis seperti itulah lahirnya paham kebangsaan Indonesia atau nasionalisme Indonesia, sehingga kita menyebut wilayah negara dengan ‘tanah tumpah darah’ atau negara kita itu dengan ‘tanah air’. Bangsa lain ada yang menyebut negerinya dengan fatherlandmotherlandcountry, statehomeland, tetapi bangsa Indonesia menyebutnya tanah air, karena kepulauan Indonesia memang terdiri atas tanah (pulau-pulau) dan air (lautan).
Negara kepulauan Indonesia mempunyai ciri khusus sebagai negara Nusantara. Artinya negara yang berada di antara dua samudera besar (Samudera Hindia dan Samudera Pasifik) dan dua benua yang besar (Asia dan Australia). Suatu posisi geografis yang sangat strategis berada di silang pertemuan kepentingan bangsa-bangsa di dunia. Suatu lokasi geografis yang tidak dimiliki negara lain, tetapi tidak dimanfaatkan dengan baik.

3.         Latar Belakang Sejarah (Historical Background)
Ada bangsa-bangsa yang lahir sebagai akibat revolusi sosial/revolusi industri, atau akibat pertentangan agama dan ada juga suatu bangsa yang lahirnya sebagai akibat rasa senasib karena terancam hidupnya, kemudian terpaksa meninggalkan negerinya menjadi pengungsi dan mencari tanah baru untuk hidup bersama-sama. Dan dengan kondisi obyektif latar belakang sejarah tersebut yang kemudian menjadi dasar lahirnya bangsa baru. Bangsa Amerika adalah bangsa yang lahir karena ada kesamaan nasib dan penderitaan yang sama di negeri asalnya masing-masing sebagai pengungsi dari Eropa. Kondisi obyektif demikian inilah yang menjadi dasar paham kebangsaan Amerika atau Nasionalisme Amerika (Serikat). Di negeri asalnya mereka kehilangan salah satu core value atau nilai luhur dalam kehidupan mereka masing-masing yaitu kebebasan individu. Itulah sebabnya maka paham kebangsaan Amerika yang lahir dari latar belakang demikian, telah menempatkan kebebasan individu sebagai nilai yang tertinggi dalam Nasionalisme-nya. Latar belakang sejarah inilah yang memberi corak konstitusionalnya, dimana terdapat ‘Bill of Right’.
Kita memiiki historical background yang berbeda. Kita tidak pernah menjadi pengungsi. Sejak zaman time immemorial kita sudah menjadi penghuni Nusantara ini. Sejarah hitam yang melatarbelakangi kebangsaan kita adalah penjajahan oleh bangsa Belanda selama 350 tahun dan penjajahan bangsa Jepang selama 3.5 tahun. Yang hilang pada zaman penjajahan tersebut bukan saja kebebasan individu atau kemerdekaan perorangan, tetapi dan terutama adalah kebebasan seluruh rakyat Indonesia yang bersama-sama dirampas oleh penjajah. Faktor historis demikian itulah yang menjadi dasar lahirnya paham kebangsaan Indonesia atau nasionalisme Indonesia. Maka paham kebangsaan Indonesia berciri berbeda dengan paham kebangsaan Amerika Serikat. Paham kebangsaan Indonesia memiliki semangat ingin bersama-sama melepaskan diri dari belenggu penjajahan bangsa asing dan membentuk bersama-sama satu bangsa didalam satu negara. Itulah sebabnya ketika bangsa Indonesia hendak mendirikan negara yang merdeka, maka landasan paham kebangsaan yang lahir dengan historical backgrounddemikian itu membentuk core value atau nilai luhur dalam bernegara, bukan pada kebebasan individu atau individualisme saja, tetapi terutama pada semangat kebersamaan, semangat kekeluargaan. Kemudian dengan semangat kebangsaan demikian itulah dibentuk negara. Kondisi obyektif latar belakang sejarah tersebutlah yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945. Berbeda dengan AS yang latar belakang sejarahnya sebagai pengungsi yang kehilangan kebebasan individu di negara asalnya masing-masing, telah menempatkan kebebasan individu sebagai core value. Core value bangsa Indonesia secara lugas, di dalam alinea pertama UUD 1945 dinyatakan “Bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa”. Inilah ciri nasionalisme Indonesia atau paham kebangsaan Indonesia, yang karena latar belakang sejarah kita, tidak menempatkan kebebasan individu sebagai core value. Walaupun mengakui hak individual, tetapi mengutamakan kebebasan bersama. Banyak tokoh-tokoh atau mereka yang menamakan pemimpin tidak menyadari perbedaan faktor historis ini dan dengan serta-merta apa yang dia lihat, dia dengar, dia pelajari dari AS ingin secara mentah-mentah diterapkan di Indonesia.




IV.             PAHAM KEBANGSAAN INDONESIA DALAM UUD 1945

1.         Nasionalisme dan Patriotisme
Sekali lagi ingin diingatkan bahwa nasionalisme atau paham kebangsaan bukanlah monopoli bangsa Indonesia atau bangsa Amerika saja, tetapi bersifat universal. Tetapi kondisi obyektif demografi, geografi dan historical background masing-masing negara yang berbeda, yang menyebabkan nasionalisme di tiap-tiap negara mempunyai ciri-ciri tersendiri. Dan paham kebangsaan yang berbeda-beda tersebut, ketika masing-masing bangsa mendirikan negara, ciri-ciri khusus tersebut mewarnai bentuk, tujuan, sistem pemerintahan yang dibangun di dalam suatu negara sebagaimana tertuang di dalam hukum dasar atau konstitusi negara yang bersangkutan. Ciri khusus ini berpengaruh juga kepada pengertian dan makna demokrasi yang diterapkan didalam negara masing-masing. Bagi kaum nasionalis Indonesia harus menyadari bahwa nasionalisme Indonesia atau paham kebangsaan Indonesia memiliki ciri-ciri khusus yang didasari oleh kondisi obyektif Indonesia yang berbeda dengan nasionalisme AS, Kanada, Jepang, Cina, Korea, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan lain-lain. Tetapi satu hal yang bersifat universal adalah setiap bangsa pasti mencintai negaranya, bahkan tidak sekadar cinta, bila perlu membela.Apa yang dibela? Cita-cita bersama yang disebut cita-cita nasional yang menjadi kepentingan nasional. Ciri nasionalisme di masing-masing negara melahirkan cita-cita nasional yang menjadi kepentingan nasional masing-masing bangsa. Karena adanya perbedaan ciri tersebut, berimplikasi kepada perbedaan kepentingan nasional, sehingga tidak mengherankan bila diantara negara terjadi konflik oleh karena ingin melindungi kepentingan nasional masing-masing. Itulah sebabnya maka nasionalisme selalu lekat dengan patriotisme. Nasion adalah bangsa, Patria adalah tanah air. Tidak bisa dilepaskan kelekatan antara bangsa dan tanah air, tidak bisa dilepaskan kelekatan antara rakyat dan wilayahnya. Sebab tanpa kedua itu tidak mungkin ada sebuah negara yang merdeka. Begitu juga halnya dengan Indonesia. Karena itu nasionalisme Indonesia harus disertai dengan patriotisme Indonesia, tanpa patriotisme, nasionalisme tinggal semboyan yang hampa.
Ketika bangsa Indonesia dengan paham kebangsaannya yang memiliki ciri-ciri khusus tersebut sampai pada tahap perjuangan yang menentukan untuk merebut kemerdekaan dari penjajah, maka secara bijak para Bapak Pendiri republik ini merangkum secara tepat ciri-ciri nasionalisme yang telah menjadi milik bangsa tersebut, dan kemudian dituangkan ke dalam hukum dasar negara yang baru dibentuk didalam falsafah bangsa dan UUD 1945.
Kita mengetahui bahwa untuk membentuk suatu negara yang merdeka dan berdaulat minimal ada 3 (tiga) faktor eksistensial yang harus dipenuhi, yaitu: rakyat (demografi), wilayah (geografi) dan pemerintahan. Paham kebangsaan yang berdasarkan kepada kondisi obyektif rakyat Indonesia yang pluralistis, geografis sebagai negara kepulauan dengan historical background tersebut di atas dan mempunyai tujuan bersama yang ingin diwujudkan sebagai bangsa, maka semboyan Bhinneka Tunggal Ika itulah yang kemudian dituangkan kedalam prinsip-prinsip membentuk konstitusi negara yang secara ideologi disebut cita-cita nasional.

2.         Negara Milik Bersama
Negara ini dibangun oleh seluruh keluarga besar bangsa Indonesia, negara ini milik bersama seluruh rakyat Indonesia, bukan milik golongan tertentu, etnik tertentu, agama tertentu, daerah tertentu, tetapi milik bersama. Karena itu yang akan diwujudkan adalah cita-cita nasional, bukan kepentingan perorangan, kelompok tertentu, golongan tertentu, etnik tertentu, ras tertentu, juga bukan untuk agama tertentu, tetapi untuk seluruh rakyat Indonesia. Begitu pula wilayah negara yang secara obyektif memiliki konfigurasi teritorial sebagai satu negara kepulauan (archipelagic state) dengan ciri sebagai negara Nusantara demikian itulah yang kemudian dijadikan dasar untuk menetapkan wilayah nasional Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ciri-ciri khusus paham kebangsaan atau nasionalisme Indonesia demikian itulah yang memberi corak yang khusus kepada dasar negara yang dibangun berkaitan dengan bentuk negara, sistem penyelenggaraan negara dan keinginan bersama atau cita-cita nasional yang akan diwujudkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sekaligus pandangan hidup atau falsafah bangsa yang disebut Pancasila. Karena Negara menjadi milik bersama, maka salah satu yang ingin diwujudkan adalah keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

3.         Pancasila Ideologi Negara
Telah menjadi pengetahuan umum dan pengakuan universal di dunia, bahwa tiap negara yang merdeka dan berdaulat pasti mempunyai hukum dasar/konstitusi, baik yang tertulis (UUD) atau yang tidak tertulis. Pada hukum dasar itu berisi seluruh konsep yang bersistem yang dijadikan asas pendapat suatu bangsa yang bersangkutan yang memberi arah dan tujuan untuk kelangsungan hidup bangsa tersebut. Inilah yang secara populer disebut Ideologi. Jadi, Pancasila yang bersumber kepada kondisi obyektif paham kebangsaan Indonesia demikian itulah yang disebut ideologi negara. Di dalamnya berisi tatanan politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan yang tertuang dalam sistem penyelenggaraan negara yang dicita-citakan dan memberikan strategi bagaimana untuk mencapai cita-cita nasional dengan memberikan prosedur, rancangan, serta program untuk mencapainya. Dengan kalimat lain dapat dinyatakan bahwa konstitusi atau hukum dasar yang kita miliki yaitu UUD 1945 mulai dari Pembukaan, Batang Tubuh dan Penjelasannya adalah pengejawantahan secara konstitusional paham kebangsaan Indonesia atau nasionalisme Indonesia yang memiliki ciri khusus berdasarkan kondisi obyektif yang telah diterima oleh seluruh bangsa dan telah ditetapkan sebagai dasar negara. Dengan pengertian demikian, maka wajarlah bahwa konstitusi kita yaitu Pancasila dan UUD 1945 memiliki ciri khas karena bersumber pada kondisi obyektif yang berbeda dengan negara-negara lain. Jadi bila kita ingin memahami dengan benar tentang nasionalisme Indonesia atau paham kebangsaan Indonesia, sebagaimana telah tertuang dalam konstitusi, harus memahami benar-benar tiga faktor yang menjadi kondisi obyektif bangsa Indonesia. Mempelajari UUD 1945 sebagai elaborasi paham kebangsaan Indonesia, tidak bisa hanya dari segi harfiah saja, tetapi perlu mengerti kandungan filosofis, ideologi dan cita-cita nasional yang ingin diwujudkan, yang bersumber kepada kondisi obyektif negara kita, inilah yang oleh para founding fathers kita disebut ‘suasana kebatinan” atau “Geistlichen Hintergrund”-nya.

Rasa Kebangsaan
Apakah saya patut bersedih jika Papua, Aceh, atau bahkan Lamongan menyatakan memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia? Jawabannya adalah relatif. Relatif sebab rasa kebangsaan bukanlah sesuatu yang mutlak, yang kita imani sepanjang hayat. Rasa kebangsaan tidak sama dengan hidup atau mati yang tidak terhindarkan. Tetapi, uniknya demi rasa kebangsaan orang bersedia berkalang nyawa.
Gagasan tentang rasa kebangsaan, sebaimana disebut oleh banyak kalangan, adalah gagasan yang bersifat abstrak. Gagasan yang diandaikan. Saya memang teringat Ben Anderson yang bersuara tentangimagined communities ketika berbicara tentang rasa kebangsaan. Bahwa saya dan seseorang yang berada di Sambas adalah senegara, sementara saya dan seseorang yang berada di Darfour bukanlah sebangsa adalah gagasan yang hanya masuk akal ketika ia secara sengaja dikonstruksikan demikian.
Sejarah, bahasa, atau bahkan ikatan kekerabatan dan agama sering menjadi identitas bersama yang menyatukan satu pihak dan pihak lainnya. Solidaritas, kebersamaan, sering dilandaskan pada kesamaan ini. Ironisnya, di sisi lain dan pada saat yang sama, perbandingan dengan pihak lain akan membenturkan kita pada ketidaksamaan.
Bangsa-bangsa Barat mencaplok wilayah-wilayah di belahan dunia lain seolah wilayah itu suatu daratan tak bertuan. Mereka yang hidup di daratan tersebut adalah manusia-manusia yang belum beradab. Dan Barat memiliki keharusan sejarah yang maha suci untuk memberadabkan mereka. Lalu, pihak-pihak yang berada dalam penindasan kolonial itu melawan dan memerdekakan diri. Membentuk suatu entitas baru, negara baru, rasa kebangsaan baru. Kita dan mereka tidak sama.
Proses semacam itu berjalan di banyak tempat. Jelas sekali. Hal itu menunjukkan kepada kita bahwa rasa kebangsaan adalah ciptaan manusia. Saya belum pernah mendapati ada ciptaan manusia yang bersifat kekal. Maka demikianlah pula rasa kebangsaan.
Ghana gundah ketika salah satu pesepakbola terbaiknya, Gerald Asamoah pindah kewarganegaraan dan bermain untuk tim nasional Jerman. Dia adalah orang berkulit hitam pertama yang bermain untuk Jerman. Dia adalah seorang striker, posisi penting untuk menentukan kemenangan suatu tim sepakbola. Jerman segenap negara besar di dunia sepakbola bergejolak saat Ailton bermaksud menerima pinangan Qatar yang hendak memberinya kewarganegaraan baru, hingga akhirnya Ailton dan Qatar mesti mengurungkan kesepakatan. Ailton adalah warganegara Brazil yang bermain untuk Bremen di liga sepakbola Jerman. Pada musim 2003/2004 Bremen menjadi juara dan Ailton menjadi pencetak gol terbanyak. Jika Asamoah bisa, mengapa Ailton tidak? Di sinilah rasa kebangsaan menampakkan relatifismenya.
Gagasan mayoritas atau pendapat pihak yang kuat sering dianggap sebagai kebenaran. Demikian pula dalam hal rasa kebangsaan.Di banyak tempat pihak-pihak yang merasa tidak memperoleh manfaat proporsional dari kelompoknya atau meyakini hal yang berbeda sering berupaya untuk memisahkan diri dan memunculkan identitas baru. Kemunculan berbagai sekte dalam agama, beragamnya organisasi profesi yang menghimpun kaum profesional dari profesi yang sama, atau bahkan lahirnya partai-partai politik baru dapat disebut sebagai perwujudan kecenderungan di atas. Uniknya, kehendak untuk memunculkan identitas kebangsaan yang baru sering kali muncul dari pihak-pihak yang dari segi jumlah termasuk minoritas. Lihatlah Basque, Kurdi, Tibet, Chechnya. Jika kita melihat dari perspektif kelompok mayoritas yang lebih kuat, tindakan tersebut adalah upaya pemisahan diri, disintegrasi yang akan memecahbelah kebersamaan sebagai satu bangsa. Selanjutnya, mari kita berada di sisi mereka. Ini adalah upaya untuk memerdekakan diri, suatu upaya pencarian identitas yang baru.
Kehendak bebas untuk menentukan identitas diri adalah hak yang tidak dapat dicabut dari diri seseorang. Mari kita berandai-andai. Pernahkah saya atau Anda memberikan mandat kepada nenek moyang negeri ini bahwa dirinya sebagaimana anak keturunannya nanti hingga akhir masa akan tetap menyatukan diri dalam satu identitas bersama sebagai satu negara? Adakah perjanjian yang dibuatnya bersama kerabat dan sejawatnya akan mengikat anak keturunannya, termasuk kita, untuk membangun kesatuan sebagai perwujudan rasa kebangsaan?
Jika ada pihak yang tidak bersepakat dengan saya, lalu menyatakan berpisah dari kebersamaannya dengan saya, kemudian mereka hidup lebih bahagia pada masa sesudahnya. Saya akan bergembira untuk kebahagiaan itu. Tetapi, jika mereka mesti berpisah dengan saya dan mereka mesti mengorbankan nyawa untuk gagasan keterpisahan itu. Saya akan bersedih untuk keterpisahan yang selamanya







Semangat Kebangsaan

Pembentukan Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908, 100 tahun lalu, dianggap sebagai langkah awal menuju lahirnya semangat kebangsaan Indonesia. Itu sebabnya, hari lahir Boedi Oetomo juga diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional.
Memang semangat kebangsaan pada tahun 1908 itu belumlah dalam pengertian seperti semangat kebangsaan Indonesia sebagaimana yang dipahami pada tahun 1945 ketika kemerdekaan Indonesia diproklamasikan.
Tentang kebangsaan Indonesia itu digambarkan secara menarik dalam perdebatan antara Sutan Takdir Alisjahbana dan Sanusi Pane di dalam bukuPolemik Kebudajaan yang diterbitkan Perpustakaan Perguruan Kementerian PP dan K Djakarta, 1954.
Sanusi Pane mengatakan, ”Tuan STA menjebut, bahwa dalam zaman Modjopahit, Diponegoro, Teungku Umar, belum ada ke-Indonesiaan. Pikiran ini kurang benarnja pada pendapatan kami. Ke-Indonesiaan pada waktu itupun sudah ada, ke-Indonesiaan dalam adat, dalam seni. Hanya natie Indonesia belum timbul, orang Indonesia belum sadar bahwa mereka sebangsa”.
Pada masa itu, semangat kebangsaan barulah pada tingkat semangat beberapa mahasiswa STOVIA asal Jawa untuk melepaskan diri dari penjajahan Belanda melalui cara-cara damai, dengan antara lain memperjuangkan kemajuan pendidikan.
Memang di STOVIA pada masa itu sudah ada mahasiswa yang datang dari luar Pulau Jawa, seperti Sumatera, Ambon, Manado, dan Timor. Namun, karena pada waktu itu faham kebangsaan Indonesia belum dikenal, mahasiswa-mahasiswa itu tidak dilibatkan dalam pembentukan Boedi Oetomo. Adalah Tjipto Mangoenkoesoemo yang kemudian meluaskan perhatian Boedi Oetomo, sehingga tidak lagi hanya dipusatkan kepada orang Jawa, tetapi juga kepada semua penduduk Hindia Timur Belanda. Dan, menurut Akira Nagazumi dalam buku The Dawn of Indonesian Nationalism: The Early Years of the Budi Utomo, 1908-1918 (Institute of Developing Economies, Tokyo, 1972), yang pantas dicatat dari Boedi Oetomo adalah antara lain organisasi itu terbebas dari prasangka keagamaan dan kebekuan tradisionalisme.
Boedi Oetomo dapat dianggap sebagai pendahulu dari pergerakan kebangsaan yang muncul dengan lahirnya Nationale Indische Partij pada tahun 1912 dan Sarikat Islam tahun 1913.
Proses yang panjang
Semangat kebangsaan tidak tumbuh dalam satu malam, tetapi melalui proses perjalanan yang panjang. Semangat kebangsaan Indonesia menajam dengan diikrarkannya Soempah Pemoeda pada 28 Oktober 1928, dan mencapai puncaknya pada proklamasi kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945.
Dalam Mukadimah Undang- Undang Dasar 1945 ditegaskan, ”... membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia….”
Kata segenap bangsa Indonesia menjadi kata kunci mengingat negara ini bukan dibuat untuk satu golongan saja, melainkan untuk semua orang yang tinggal di negara Indonesia tanpa memandang suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).
Semua pihak mempunyai sumbangan sendiri-sendiri bagi kemerdekaan Indonesia. Itu pula sebabnya, Indonesia menjadikan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan, biarpun berbeda-beda tetapi tetap satu.
Atas dasar kesepakatan itulah Indonesia dibangun dan dapat bertahan melawan aksi polisionil Belanda pada tahun 1947 dan 1949 serta memperoleh kemerdekaannya secara utuh melalui Konferensi Meja Bundar pada tahun 1949.
Harus terus diperkuat
Namun, semangat kebangsaan itu tidak statis, tetapi harus terus dipelihara dan diperkuat dari waktu ke waktu mengingat generasi berikutnya (yang lahir setelah Indonesia memperoleh kemerdekaan) tidak memiliki pengalaman yang sama dengan apa yang dilalui para pendiri bangsa ini. Mereka menerima kemerdekaan Indonesia sebagai sesuatu yang sudah ada. Karena itu, mereka cenderung meremehkannya, bahkan beberapa pihak mencoba mengutak-utiknya dengan mengemukakan berbagai argumen sebagai alasan.
Pada masa pemerintahan Orde Lama yang dipimpin Presiden Soekarno, asas keseimbangan SARA sangat diperhatikan. Para menteri datang dari berbagai suku bangsa sehingga ”pertarungan” berbagai putra daerah berlangsung pada panggung nasional.
Pada masa pemerintahan Orde Baru yang dipimpin Presiden Soeharto, asas keseimbangan itu seakan terabaikan. ”Pertarungan” putra daerah berlangsung pada tingkat provinsi dan mulailah ”nasionalisme” lokal bermunculan. Antara lain muncul tuntutan agar kepala daerah (gubernur) haruslah putra daerah karena mereka tidak melihat adanya peluang untuk bertarung pada tingkat nasional.
Bukan itu saja, gaya komando seperti yang berlaku di kalangan militer yang coba diterapkan untuk memelihara kebangsaan Indonesia, seperti pemaksaan Pancasila sebagai asas tunggal dan pengajaran (indoktrinasi) Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4), justru menumbuhkan ”perlawanan” terselubung pada beberapa kelompok masyarakat.
Padahal, semangat kebangsaan Indonesia yang salah satu unsur terpentingnya adalah toleransi, atau sikap saling menghormati, seharusnya ditumbuhkan dan dikembangkan sesuai dengan tingkat kematangan masyarakat. Pemaksaan kehendak hanya akan membuat sikap saling menghormati yang terbentuk itu semu dan tidak langgeng.
Dan, berakhirnya masa Orde Baru seakan membuka kotak pandora dan semangat kebangsaan Indonesia yang diletakkan pada tahun 1945 menjadi taruhan. Keinginan untuk memisahkan diri mulai disuarakan, pembakaran rumah ibadah terjadi di sejumlah tempat, dan sekelompok orang diusir keluar dari desanya dan tinggal di tempat pengungsian hanya karena meyakini kepercayaan yang berbeda. Dapat dipastikan bahwa itu bukanlah suatu pemandangan atau keadaan yang diinginkan para pendiri bangsa ini.
Pemerintah harus berbuat sesuatu untuk mengatasi keadaan itu, dan bukan malah membuatnya menjadi semakin parah. Tidak berarti pemerintah harus bekerja sendirian, pemerintah bisa saja mengajak semua unsur masyarakat yang diharapkan dapat membantu mengatasi keadaan itu. Yang diperlukan dari pemerintah adalah memimpin di depan untuk sesegera mungkin menyelesaikan keadaan sebelum menjadi tidak terkendali.
Sultan Hamengku Buwono X dalam buku Merajut Kembali Keindonesiaan Kita (PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2007) menyebutkan, masalahnya adalah bagaimana mengaktualisasikan simbol Bhinneka Tunggal Ika—yang biarpun berbeda tetapi tetap satu itu—ke dalam konteks yang benar.
Peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional harus dijadikan awal mula sebagai langkah untuk mengembalikan semangat kebangsaan seperti yang diletakkan pada awal negara ini didirikan. Dengan demikian, Indonesia dapat menjadi ”rumah” yang aman dan nyaman bagi kita se




Wawasan Kebangsaan

Bangsa Indonesia yang menghuni Negara Kesatuan Republik Indonesia ini adalah sebuah bangsa yang besar. Negara dengan jumlah penduduk + 212.000.000 orang ini merupakan negara kepulauan yang terbesar di dunia. Keadaan tanahnya yang subur dan terletak diantara dua benua serta dua samudra besar membuat posisi geografis Indonesia sangat strategis menyebabkan banyak bangsa-bangsa lain di dunia sejak dulu ingin menguasai bumi Nusantara ini.
Kondisi geografis yang sangat menguntungkan itu bangsa ini diperindah oleh keanekaragaman suku, etnis, agama, bahasa dan adat istiadat namun sangat rentan terhadap perpecahan jika tidak dikelola dengan baik. Oleh karena itu dalam pengelolaan sebuah “negara bangsa” diperlukan suatu cara pandang atau wawasan yang berorientasi nasional (Wawasan Nasional) dan merupakan suatu kesepakatan bangsa Indonesia yang dikenal dengan “Wawasan Nusantara”.
Cara pandang yang berwawasan nusantara itulah pada empat tahun belakangan ini sangat memprihatinkan, bahkan bisa dikatakan sudah luntur dan hampir berada titik terendah pada diri sikap anak bangsa ini. Bahkan lebih memprihatinkan lagi ada sekelompok anak bangsa ini yang rela dan dengan rasa tidak bersalah menjual negara ini kepada bangsa lain hanya untuk mendapatkan popularitas, kedudukan ataupun materi.
Mencermati perilaku seperti itu, maka dapat dipastikan bahwa ikatan nilai-nilai kebangsaan yang selama ini terpatri kuat dalam kehidupan bangsa Indonesia yang merupakan pengejawantahan dari rasa cinta tanah air, bela negara dan semangat patriotisme bangsa mulai luntur dan longgar bahkan hampir sirna. Nilai-nilai budaya gotong royong, kesediaan untuk saling menghargai dan saling menghormati perbedaan serta kerelaan berkorban untuk kepentingan bangsa yang dulu melekat kuat dalam sanubari masyarakat yang dikenal dengan semangat kebangsaannya sangat kental terasa makin menipis. Selain itu, berkembang pula sebuah kesadaran etnis yang sempit berupa tuntutan merdeka dari sekelompok masyarakat di beberapa daerah, seperti Aceh, Ambon dan Papua.
Bangsa Indonesia yang dibangun oleh para pendahulu kita lebih dari lima puluh tahun yang lalu, dilandasi atas rasa persatuan dan kesatuan yang tinggi untuk mewujudkan cita-cita bersama yaitu masyarakat adil dan makmur. Rasa kebersamaan tersebut tidak dibangun atas dasar asal usul, suku bangsa, agama dan geografi, melainkan rasa senasib dan sepenanggungan sebagai bangsa yang terjajah ketika itu.
Melihat perkembangan wawasan kebangsaan yang dimiliki anak-anak bangsa seperti itu, apabila dibiarkan dapat dipastikan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sangat kita cintai ini akan terpecah-pecah, dan pada gilirannya akan memudahkan kekuatan asing masuk ke wilayah kita seperti terjadi pada jaman penjajahan Belanda dahulu. Ketika itu bangsa Indonesia ditindas, diperas dan dibelenggu kebebasan hak-haknya oleh Belanda. Dengan semangat persatuan Indonesia bangsa ini kemudian bangkit bersatu padu mengusir penjajah.
Sebenarnya Wawasan Kebangsaan Indonesia sudah dicetuskan oleh seluruh Pemuda Indonesia dalam suatu tekad pada tahun 1928 yang dikenal dengan sebutan “Sumpah Pemuda” yang intinya bertekad untuk bersatu dan merdeka dalam wadah sebuah “Negara Kesatuan Republik Indonesia”. Seharusnya untuk menghadapi keadaan negara yang serba sulit sekarang ini kita bangsa Indonesia bangkit bersatu mengatasi masalah bangsa secara bersama-sama.
Untuk itulah dalam sebuah kesempatan saya sebagai Pimpinan TNI Angkatan Darat selalu memerintahkan seluruh prajurit TNI Angkatan Darat dan mengajak masyarakat Indonesia untuk memantapkan kembali Wawasan Kebangsaan Indonesia yang di masa lalu telah berhasil mempersatukan segala macam perbedaan yang ada diantara kita.
Mengapa “Wawasan Kebangsaan” Begitu Penting ?
Kondisi Wawasan Kebangsaan pada diri anak bangsa sekarang ini telah pudar dan hampir pada jurang kehancuran. Ikatan nilai-nilai kebangsaan yang berhasil mempersatukan bangsa sudah longgar. Ibarat sebuah meja, Republik yang ditopang oelh empat pilar kekuatan nasional yakni ekonomi, budaya, politik dan TNI, tiga dari empat pilar sudah patah dan satu pilar lainnya sudah bengkok. Ketiga pilar yang patah tersebut adalah : Pertama, kondisi ekonomi kita yang serba sulit sebagai dampak krisis ekonomi yang berkepanjangan, menyebabkan jumlah penduduk miskin semakin bertambah, lapangan pekerjaan sangat kurang dan jumlah pengangguran semakin meningkat serta kesenjangan ekonomi semakin lebar.
Kedua, kondisi budaya sebagai dampak dari reformasi yang kebablasan, telah memunculkan berbagai bentuk sikap yang mengarah kepada tindakan kekerasan atau main hakim sendiri serta tindakan yang tidak berperikemanusiaan (biadab). Ketiga, kesadaran politik masyarakat yang menyedihkan karena sarat dengan pemenuhan ambisi pribadi atau kelompok. Para elit politik lebih mempertahankan argumentasinya sendiri-sendiri dan bertahan pada kebenaran masing-masing. Sedangkan pilar keempat yang masih utuh itu adalah militer, dalam hal ini TNI, itupun kondisinya sudah agak bengkok, karena begitu berat beban yang diemban dan ada pihak yang memang ingin menghancurkannya.
TNI dikatakan masih utuh, karena TNI sampai saat ini masih mampu melaksanakan tugas pokoknya, yaitu menjaga keutuhan NKRI, menjaga kedaulatan NKRI dan melindungi bangsa Indonesia. TNI bertekad selalu konsisten memegang komitmen kebangsaan untuk menjaga keutuhan NKRI, walaupun TNI terus menerus diuji dan dirongrong oleh berbagai kelompok kepentingan. Mereka antara lain berusaha menggagalkan tekad TNI memerangi kelompok separtis/pengkhianat negara di berbagai daerah konflik.
Menyimak keadaan Wawasan Kebangsaan Indonesia pada rakyat kita yang sangat memprihatinkan itu, sepatutnya bangsa ini sepakat untuk memantapkan kembali nilai-nilai kebangsaan yang sudah longgar itu. Kita perlu suatu landasan yang kuat dan konsepsional untuk membangun kembali persatuan dan kesatuan bangsa serta jiwa nasionalisme yaitu “Wawasan Kebangsaan”.
Membahas Wawasan Kebangsaan, harus dimulai dari nilai-nilai yang dibangun oleh para pendahulu dan pendiri bangsa ini. Mereka telah menanamkan nilai-nilai persatuan dengan mencetuskan “Sumpah Pemuda” yang kemudian menjadi embrio dari Wawasan Kebangsaan yaitu : Satoe Noesa, Satoe Bangsa dan Satoe Bahasa, yaitu Indonesia. Makna dari Wawasan Kebangsaan memang belum begitu popular dalam kehidupan masyarakat kita, sehingga sampai saat ini belum ada rumusan yang baku tentang Wawasan Kebangsaan itu, mengingat sifatnya abstrak dan dinamis.
Kelihatannya masyarakat intelektual bahkan para pakar lebih tertarik dan mementingkan nilai-nilai universal daripada nilai-nilai nasional. Akibatnya rumusan pengertian Wawasan Kebangsaan sangat beragam dan sulit dipahami oleh masyarakat umumnya. Sesungguhnya Wawasan Kebangsaan perlu dipahami oleh seluruh lapisan bangsa, bukan hanya oleh kelompok tertentu saja. Dengan demikian Wawasan Kebangsaan akan bermakna dan menyentuh langsung kedalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Pada lingkungan internasional, fenomena yang muncul adalah isu-isu global yang memuat nilai-nilai universal dan mengungguli nilai-nilai nasional. Nilai-nilai universal tersebut bahkan sengaja dipaksakan kepada negara tertentu oleh negara-negara yang mengklaim dirinya sebagai negara yang paling menjungjung tinggi nilai-nilai tersebut. Hal itu dilakukan melalui LSM internasional dan nasional, sehingga memaksa negara-negara yang tidak menjalankannya untuk mengikuti konsep kebijakan negara sponsor tersebut. Fenomena ini dapat dirasakan dan dengan kasat mata dapat kita saksikan di negara kita ini, antara lain ada kelompok kepentingan tidak merasa bersalah menjual bangsa dan negaranya untuk memenuhi kepentingan pribadinya atau kelompoknya.
Kita masih sering mendengar tuduhan-tuduhan melanggar HAM kepada TNI. Mereka mereka meminta kepada Mahkamah Internasional untuk mengadili perwira-perwira TNI. Memang sulit dimengerti, seorang anggota TNI yang bertugas demi bangsa dan negara dituntut untuk diajukan ke Mahkamah Internasional oleh bangsanya sendiri. Sementara mereka yang menjual bangsa dan negaranya kepada bangsa lain, dengan memanfaatkan isu global tidak pernah terusik. Banyak lagi contoh lain, yang menggambarkan rendahnya kesadaran masyarakat dalam memahami Wawasan Kebangsaan. Mereka hidup di bumi Indonesia, tetapi pemikirannya mengacu kepada norma yang berlaku di negara lain, khususnya negara Barat dan merusak nilai-nilai nasional.
Menyimak kondisi kebangsaan seperti itu keberadaan Wawasan Kebangsaan sebagai landasan konsepsional pemersatu bangsa semakin penting.
Wawasan Kebangsaan bagi prajurit TNI AD bukan sekedar slogan, tetapi melekat dalam pola pembinaan TNI AD maupun kehidupan prajurit sehari-hari. Ini didasarkan kepada : Pertama, prajurit TNI AD adalah warga negara Indonesia yang terdiri dari semua suku yang ada di Indonesia, selanjutnya menjadi satu ikatan yang disebut “TNI”.
Dengan demikian tidak ada istilah Tentara Aceh, Tentara Papua maupun Tentara Ambon, sekali lagi yang ada hanya TNI. Kedua, prajurit TNI AD dalam keseharian selalu menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi dalam berkomunikasi. Ketiga, prajurit TNI AD pada dasarnya siap untuk ditugaskan di mana saja di seluruh wilayah nasional Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak berdasarkan asal daerahnya, tetapi berdasarkan kepada wawasan, pengalaman, kemampuan ilmu pengetahuan, dedikasi dan loyalitas serta komitmen terhadap keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kalau kita lihat kondisi nyata sekarang, yang menjadi Pangdam IM di NAD adalah orang Sunda, yang menjadi Pangdam II/SWJ di Sumatera Selatan adalah suku Jawa, Pangdam VI/TPR di Kalimantan adalah suku Batak atau Tapanuli dan Pangdam V/BRW di Jawa Timur suku Sulawesi Selatan. Sementara itu yang jadi pimpinan TNI AD adalah saya yang kebetulan orang dari Palembang. Hal ini tidak menjadikan TNI AD terpecah-pecah, tidak akan pernah unjuk rasa untuk penggantian pimpinan TNI AD dari orang Jawa, meskipun orang Jawa merupakan suku terbesar. Ini semuanya terjadi karena TNI AD lebih dahulu menghayati Wawasan Kebangsaan.
Semua itu terjadi bukan secara kebetulan, tetapi substansi dari Wawasan Kebangsaan sudah terakomodasi dalam butir-butir Sapta Marga, Sumpah Prajurit dan 8 TNI Wajib yang merupakan kepribadian TNI dalam kehidupan sehari-hari. Untuk lebih jelasnya akan saya sampaikan tiga unsur Wawasan Kebangsaan yaitu : Rasa Kebangsaan, Paham Kebangsaan dan Semangat Kebangsaan.
Apa Yang Dimaksud Dengan Rasa Kebangsaan ?
Rasa kebangsaan sebenarnya merupakan sublimasi dari Sumpah Pemuda yang menyatukan tekad menjadi bangsa yang kuat, dihormati dan disegani diantara bangsa-bangsa di dunia. Kita tidak akan pernah menjadi bangsa yang kuat atau besar, manakala kita secara individu maupun kolektif tidak merasa memiliki bangsanya. Rasa kebangsaan adalah suatu perasaan rakyat, masyarakat dan bangsa terhadap kondisi bangsa Indonesia dalam perjalanan hidupnya menuju cita-cita bangsa yaitu masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Kita sering membaca dan mendengar melalui media massa baik elektronik maupun cetak bahwa banyak orang menyampaikan pendapat tentang penyelesaian konflik Aceh menurut cara berpikir sendiri-sendiri, tetapi sampai sekarang belum ada yang dengan sukarela mendaftarkan diri untuk membantu menumpas pemberontak GAM. Tugas penumpasa pemberontakan GAM dalam rangka penyelesaian konflik Aceh seolah-olah hanya tugas Pemerintah dan TNI saja.
Lebih menyedihkan lagi, ada sekelompok masyarakat Indonesia yang menangisi rakyat Irak dan mengumpulkan dana untuk membantu rakyat Irak ketika diserang Amerika Serikat, tetapi kita tidak melihat adanya sekelompok masyarakat Indonesia yang menangis terhadap penderitaan rakyat Aceh maupun rakyat Papua karena diperas, disiksa dan disakiti oleh para pemberontak GAM . Kita prihatin melihat konflik di Maluku karena adanya organisasi massa yang mengirim massanya bukan untuk menyelesaikan masalah, justru memperparah konflik. Semuanya ini fakta yang menunjukkan betapa tipisnya rasa kebangsaan.
Kita masih ingat Presiden Soekarno secara konsisten menanamkan rasa kebangsaan kita agar bangsa ini terbebas sebagai bangsa terjajah. Sejarah mencatat, konferensi Asia Afrika pertama kali dilaksanakan di Bandung, yang mencetuskan Gerakan Non Blok atau lebih dikenal dengan politik bebas aktif merupakan gagasan cemerlang bangsa Indonesia. Pada saat itu seluruh bangsa Indonesia merasa bangga menjadi warga bangsa, walaupun secara ekonomis ketika itu kita lemah.
Ketika bangsa ini membebaskan Irian Jaya, Presiden Soekarno menyatakan melalui siaran RRI : pada tanggal 1 Mei 1961, sebelum ayam berkokok Bendera Merah Putih sudah berkibar di Irian Barat dan Belanda sudah meninggalkan Indonesia. Saat itu juga para pemuda-pemudi bangsa Indonesia berduyun-duyun mendaftarkan diri untuk menjadi sukarelawan dan sukarelawati untuk bersama-sama dengan Angkatan Perang mengusir Belanda, demikian juga pada saat konfrontasi dengan Malaysia. Ini semua menunjukkan bahwa pada saat itu rasa kebangsaan bangsa Indonesia cukup tinggi, yang sama sekali berbeda dengan kondisi sekarang.
Paham Kebangsaan
Barangkali masih belum banyak diantara kita yang mengerti tentang “paham kebangsaan”. Substansi dari paham kebangsaan adalah pengertian tentang bangsa, meliputi apa bangsa itu dan bagaimana mewujudkan masa depannya. Paham kebangsaan merupakan pemahaman rakyat dan masyarakat terhadap bangsa dan negara Indonesia yang diploklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945. Pemahaman tersebut harus sama pada setiap anak bangsa meskipun berbeda dalam latar belakang pendidikan, pengalaman serta jabatan. Uraian rinci tentang paham kebangsaan Indonesia adalah sebagai berikut :
Pertama, Atas “Rahmat Allah Yang Maha Kuasa” pada tanggal 17 Agustus 1945, bersamaan dengan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia lahirlah sebuah bangsa yaitu “Bangsa Indonesia”, yang terdiri dari bermacam-macam suku, budaya, etnis dan agama. Bangsa ini lahir dari buah persatuan bangsa yang solid dan kesediaan saling berkorban dalam waktu yang panjang dari para pendahulu kita. Bangsa Indonesia lahir tidak didasarkan sentimen atau semangat primordialisme agama, maupun etnis, melainkan didasarkan pada persamaan nasib untuk menjadi suatu bangsa yang besar, kuat dan terhormat.
Setiap warga negara mempunyai kedudukan yang sama di hadapan hukum dan pemerintah. Warga negara Indonesia bukan saja orang-orang bangsa Indonesia asli, melainkan termasuk bangsa lain seperti keturunan Tionghoa, keturunan Belanda dan keturunan Arab yang bertempat tinggal di Indonesia dan mengaku Indonesia sebagai Tanah Airnya serta bersikap setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang telah disahkan sesuai dengan undang-undang. Dengan demikian setiap warga negara mempunyai hak dan kewajiban yang sama dan tidak ada diskriminasi diantara warga masyarakat, termasuk upaya pembelaan negara.
Apabila setiap warga negara konsisten dengan kesepakatan bersama yang dihasilkan oleh para pendahulu kita itu, kiranya bentrokan-bentrokan antar anak bangsa tidak perlu terjadi, hanya karena perbedaan suku, agama, etnis maupun golongan.
Kedua, bagaimana mewujudkan masa depan bangsa ? Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 telah mengamanatkan bahwa perjuangan bangsa Indonesia telah mengantarkan rakyat Indonesia menuju suatu negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Uraian tersebut adalah tujuan akhir bangsa Indonesia yaitu mewujudkan sebuah masyarakat yang adil dan makmur.
Untuk mewujudkan masa depan bangsa Indonesia menuju ke masyarakat yang adil dan makmur, pemerintah telah melakukan upaya-upaya melalui program pembangunan nasional baik fisik maupun non fisik. Sasaran pembangunan yang bersifat fisik ditujukan untuik meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sedangkan yang bersifat non fisik diarahkan kepada pembangunan watak dan character bangsa yang mengarah kepada warga negara yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha esa dengan mengedepankan sifat kejujuran, kebenaran dan keadilan dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya. Keberhasilan pembangunan nasional tidak semata-mata tidak menjadi tanggung jawab pemerintah saja, tetapi partisipasi semua komponen bangsa termasuk TNI AD. Pada umumnya keberhasilan suatu negara dalam mencapai tujuannya ditentukan lima Komponen Bangsa, antara lain : Komponen Agamawan, Komponen Cendekiawan, Pemerintah, Ekonom (Pengusaha) dan Angkatan Bersenjata.
Komponen Agamawan mempunyai peranan yang sangat penting dalam memberikan landasan moral bangsa yang merupakan pondasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dengan moral yang baik, diharapkan bangsa ini akan terhindar dari tindkan-tindakan yang mengarah pada penyimpangan ataupun tidakan lain yang tidak sesuai dengan peraturan maupun norma agama. Tidak ada satu agamapun di Indonesia yang menganjurkan untuk korupsi, saling membunuh, pengrusakan ataupun tindak kekerasan lainnya. Ini semua merupakan sebuah harapan, walaupun kita tahu apa yang terjadi sekarang jauh dari apa yang kita inginkan. Belakangan ini beberapa peristiwa yang terjadi dalam kehidupan bangsa saat ini, agama dijadikan sarana atau alat untuk mencapai tujuan, khususnya untuk meraih kekuasaan atau untuk meraih keuntungan materi.
Komponen Cendekiawan, berperan dalam memberikan sumbangan pemikiran-pemikiran sesuai disiplin masing-masing untuk memajukan bangsa ini. Bangsa ini akan maju apabila kualitas sumber daya manusianya baik. Tapi sangat disayangkan, ada sebagian dari para cendekiawan dengan memanfaatkan ilmunya justru membuat pernyataan-pernyataan yang kadang-kadang membingungkan masyarakat, bahkan ada yang bernada menghasut.
Pemerintah yang bersih dan berwibawa memiliki peran yang sangat penting dalam pembangunan bangsa. Karena pemerintah yang merencanakan sekaligus melaksanaan pembangunan nasional. Isu tentang pemerintah yang KKN mengakibatkan kurangnya kepercayaan rakyat terhadap Pemerintah sehingga membuat masyarakat apatis dalam pembangunan.
Ekonom termasuk diantaranya pengusaha berperan dalam mengembangkan perekonomian bangsa. Pembangunan nasioanl tidak akan berhasil apabila kondisi perekonomian nasional dalam keadaan krisis, karena pembangunan tentunya memerlukan biaya yang cukup besar. Penanganan koruptor dan konglomerat hitam dan sampai saat ini masih belum tuntas.
Angkatan Bersenjata atau TNI, memiliki tugas yang amat berat dalam mengamankan pelaksanaan pembangunan maupun hasil-hasil pembangunan. Ketika reformasi bergulir, kita melihat anak bangsa ini tega dan merasa tidak berdosa menghancurkan sentra-sentra ekonomi di kota besar. TNI tidak berhasil mengamankan keadaan tersebut karena posisi TNI saat itu sangat tidak mendukung. Ini menunjukkan keberadaan TNI itu sangat penting, baik dalam keadaan bahaya maupun dalam keadaan aman. Kekeliruan ABRI pada saat itu adalah terlibat dalam politik praktis yang terlalu jauh, dengan melalui reformasi internalnya mengupayakan pulihanya kembali kepercayaan dan kecintaan rakyat Indonesia terhadap TNI.
Semangat Kebangsaan
Pengertian Semangat Kebangsaan atau nasionalisme, merupakan perpaduan atau sinergi dari rasa kebangsaan dan paham kebangsaan. Kondisi semangat Kebangsaan atau nasionalisme suatu bangsa akan terpancar dari kualitas dan ketangguhan bangsa tersebut dalam menghadapi berbagai ancaman. Sebagai contoh, kita lihat beberapa negara dunia ketiga atau negara berkembang yang terkena sanksi embargo dari Dewan Keamanan PBB, nyatanya mereka sampai sekarang masih tetap bertahan dan mampu hidup, karena bangsa tersebut memiliki semangat Kebangsaan yang mantap.
Berbicara Semangat Kebangsaan, kita tidak boleh lepas dari sejarah bangsa, antara lain Peristiwa 10 Nopember 1945 di Surabaya dan Peristiwa 15 Desember 1945 di Ambarawa, dimana Semangat kebangsaan diwujudkan dalam semboyan “Merdeka atau Mati”. Semangat Kebangsaan merupakan motivasi untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Pancasila sebagai dasar negaranya.
Motivasi tersebut bagi seorang prajurit TNI harus dibentuk, dipelihara dan dimantapkan sehingga seorang prajurit akan rela mati demi NKRI. Kita sadar betul bahwa kondisi bangsa yang pluralisme atau kebhinekaan memerlukan suatu pengelolaan yang baik, sehingga tidak menjadi ancaman bagi keutuhan dan kesatuan bangsa. Semangat kebangsaan yang mengalir kuat didalam diri prajurit TNI (TNI AD) dapat ditularkan kepada masyarakat melalui interaksi yang baik.
Semangat Kebangsaan dimiliki prajurit diharapkan mampu ditransformasikan kepada masyarakat sebagai perekat kesatuan. Dengan Semangat kebangsaan yang tinggi, kekhawatiran akan terjadinya ancaman terhadap keutuhan dan kesatuan bangsa akan dapat dielakkan. Dari Semangat kebangsaan akan mengalir rasa kesetiakawanan sosial, semangat rela berkorban dan dapat menumbuhkan jiwa patriotisme. Ketiga hal tersebut satu sama lain berkaitan dan saling mempengaruhi, secara singkat dapat saya sampaikan sebagai berikut :
Pertama, rasa kesetiakawanan sosial akan mempertebal semangat kebangsaan suatu bangsa. Kesetiakawanan sosial, mengandung makna adanya rasa satu nasib dan sepenanggungan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hadirnya rasa kepedulian terhadap sesama anak bangsa bagi mereka yang mengalami kesulitan akan mewujudkan suatu rasa kebersamaan sesama bangsa.
Kedua, semangat rela berkorban, kesediaan untuk berkorban demi kepentingan yang lebih besar atau demi negara dan bangsa telah mengantarkan bangsa Indonesia untuk merdeka, lepas dari penjajahan. Sudah banyak korban para Kusuma Bangsa dalam memperjuangkan kemerdekaan tersebut. Sebagai bangsa besar sepatutnya kita semua wajib menghormati para pahlawan pejuang kemerdekaan. Kita semua sepakat bahwa semangat rela berkorban tersebut, bukan hanya pada saat perjuangan kemerdekaan saja, tetapi sekarang juga kita masih mendambakan adanya kerelaan berkorban untuk kepentingan bangsa dalam pembangunan.
Secara jujur kita akui bahwa pada saat sekarang kondisi jiwa semangat berkorban bangsa Indonesia sudah mengalami erosi. Yang ada sekarang adalah rela mengorbankan orang banyak demi terwujudnya kepentingan pribadi, kelompok maupun golongannya.
Ketiga, Jiwa patriotik. Bagi bangsa yang ingin maju dalam mencapai tujuannya, disamping memiliki semangat rela berkorban, juga harus didukung dengan jiwa patriotik yang tinggi. Jiwa patriotik akan melekat pada diri seseorang, manakala orang tersebut tahu untuk apa mereka berkorban.
Bagi prajurit TNI AD jiwa patriotik ini hendaknya sudah menjadi darah daging dalam kehidupannya. Dalam keadaan bagaimanapun setiap prajurit TNI AD jangan pernah ragu-ragu dalam melaksanakan tugas, karena yang dikerjakan itu adalah untuk kepentingan negara dan bangsa. Kita semua rela berkorban dengan resiko mati sekalipun karena kita tahu untuk apa kita mati, tidak lain adalah demi bangsa dan negara. Semua prajurit harus berpegang teguh kepada Sapta Marga dan Sumpah Prajurit sebagai pegangan hidup.
Mengakhiri penjelasan ini, beberapa hal yang perlu mendapat perhatian bersama, sebagai berikut :
Pertama, tumbuh kembangkan terus pengertian Wawasan Kebangsaan sebagai alat pemersatu bangsa dalam kehidupan sehari-hari di tengah-tengah rakyat, walaupun latar belakang suku, agama, ras dan adat istiadat yang berbeda.
Kedua, hayati dan pahami secara utuh tentang butir-butir dari Wawasan Kebangsaan yaitu; rasa kebangsaan, paham kebangsaan dan semangat kebangsaan yang merupakan jiwa bangsa Indonesia dan pendorong tercapainya cita-cita bangsa.
Ketiga, bina terus semangaqt kebangsaan, persatuan dan kesatuan bangsa di lingkungan saudara dalam upaya mewujudkan kemanunggalan TNI dengan Rakyat yang merupakan kekuatan bangsa yang dahsyat. Saya yakin bahwa terjadinya kekacauan negara saat ini, lebih disebabkan pernyataan dan tingkah laku sebagian elit politik, para pakar dan kelompok kepentingan tertentu yang lebih mementingkan kelompoknya daripada bangsa dan negara tercinta ini.
Demikian penjelasan tentang Wawasan Kebangsaan Indonesia sebagai alat pemersatu bangsa, dengan harapan dapat dijadikan sumber motivasi dalam mempersatukan bangsa sehingga terhindar dari diisintegrasi bangsa. Kita semua mengharapkan bahwa kebersamaan dan kesetaraan serta persatuan dan kesatuan bangsa segera terwujud, demi tercapainya cita-cita bangsa.
Akhirnya, marilah kita memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar senantiasa diberikan bimbingan dan kekuatan pada kita semua dalam melanjutkan pengabdian kepada negara dan bangsa Indonesia yang kita cintai ini.
Wawasan Nusantara
A. Pengertian Wawasan Nusantara
Wawasan Nusantara adalah cara pandang dan sikap bangsa Indonesia diri dan lingkungannya, dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan wilayah dalam penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
B. Isi Wawasan Nusantara
Wawasan Nusantara mencakup :
1. Perwujudan Kepulauan Nusantara sebagai Satu Kesatuan Politik, dalam arti :
a. Bahwa kebulatan wilayah nasional dengan segala isi dan kekayaannya merupakan satu kesatuan wilayah, wadah, ruang hidup, dan kesatuan matra seluruh bangsa serta menjadi modal dan milik bersama bangsa.
b. Bahwa bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai suku dan berbicara dalam berbagai bahasa daerah serta memeluk dan meyakini berbagai agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa harus merupakan satu kesatuan bangsa yang bulat dalam arti yang seluas-luasnya.
c. Bahwa secara psikologis, bangsa Indonesia harus merasa satu, senasib sepenanggungan, sebangsa, dan setanah air, serta mempunyai tekad dalam mencapai cita-cita bangsa.
d. Bahwa Pancasila adalah satu-satunya falsafah serta ideologi bangsa dan negara yang melandasi, membimbing, dan mengarahkan bangsa menuju tujuannya.
e. Bahwa kehidupan politik di seluruh wilayah Nusantara merupakan satu kesatuan politik yang diselenggarakan berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
f. Bahwa seluruh Kepulauan Nusantara merupakan satu kesatuan sistem hukum dalam arti bahwa hanya ada satu hukum nasional yang mengabdi kepada kepentingan nasional.
g. Bahwa bangsa Indonesia yang hidup berdampingan dengan bangsa lain ikut menciptakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial melalui politik luar negeri bebas aktif serta diabdikan pada kepentingan nasional.
2. Perwujudan Kepulauan Nusantara sebagai satu Kesatuan Ekonomi, dalam arti :
a. Bahwa kekayaan wilayah Nusantara baik potensial maupun efektif adalah modal dan milik bersama bangsa, dan bahwa keperluan hidup sehari-hari harus tersedia merata di seluruh wilayah tanah air.
b. Tingkat perkembangan ekonomi harus serasi dan seimbang di seluruh daerah, tanpa meninggalkan ciri khas yang dimiliki oleh daerah dalam pengembangan kehidupan ekonominya.
c. Kehidupan perekonomian di seluruh wilayah Nusantara merupakan satu kesatuan ekonomi yang diselenggarakan sebagai usaha bersama atas asas kekeluargaan dan ditujukan bagi sebesar-besar kemakmuran rakyat.
3. Perwujudan Kepulauan Nusantara sebagai Satu Kesatuan Sosial dan Budaya, dalam arti :
a. Bahwa masyarakat Indonesia adalah satu, perikehidupan bangsa harus merupakan kehidupan bangsa yang serasi dengan terdapatnya tingkat kemajuan masyarakat yang sama, merata dan seimbang, serta adanya keselarasan kehidupan yang sesuai dengan tingkat kemajuan bangsa.
b. Bahwa budaya Indonesia pada hakikatnya adalah satu, sedangkan corak ragam budaya yang ada menggambarkan kekayaan budaya bangsa yang menjadi modal dan landasan pengembangan budaya bangsa seluruhnya, dengan tidak menolak nilai – nilai budaya lain yang tidak bertentangan dengan nilai budaya bangsa, yang hasil-hasilnya dapat dinikmati oleh bangsa.
4. Perwujudan Kepulauan Nusantara sebagai Satu Kesatuan Pertahanan Keamanan, dalam arti :
a. Bahwa ancaman terhadap satu pulau atau satu daerah pada hakekatnya merupakan ancaman terhadap seluruh bangsa dan negara.
b. Bahwa tiap-tiap warga negara mempunyai hak dan kewajiban yang sama dalam rangka pembelaan negara dan bangsa.
Sumber :
syadiashare 2009,Ensiklopedia



Peran dan fungsi mahasiswa menanggulangi kondisi negara

Mahasiswa dapat dikatakan sebuah komunitas unik yang berada di masyarakat, dengan kesempatan dan kelebihan yang dimilikinya, mahasiswa mampu berada sedikit di atas masyarakat. Mahasiswa juga belum tercekcoki oleh kepentingan-kepentingan suatu golongan, ormas, parpol, dsb. Sehingga mahasiswa dapat dikatakan (seharusnya) memiliki idealisme. Idealisme adalah suatu kebenaran yang diyakini murni dari pribadi seseorang dan tidak dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal yang dapat menggeser makna kebenaran tersebut.
Berdasarkan berbagai potensi dan kesempatan yang dimiliki oleh mahasiswa, tidak sepantasnyalah bila mahasiswa hanya mementingkan kebutuhan dirinya sendiri tanpa memberikan kontribusi terhadap bangsa dan negaranya. Mahasiswa itu sudah bukan siswa yang tugasnya hanya belajar, bukan pula rakyat, bukan pula pemerintah. Mahasiswa memiliki tempat tersendiri di lingkungan masyarakat, namun bukan berarti memisahkan diri dari masyarakat. Oleh karena itu perlu dirumuskan perihal peran, fungsi, dan posisi mahasiswa untuk menentukan arah perjuangan dan kontribusi mahasiswa tersebut.
1. Peran Mahasiswa
1.1 Mahasiswa Sebagai “Iron Stock”
Mahasiswa dapat menjadi Iron Stock, yaitu mahasiswa diharapkan menjadi manusia-manusia tangguh yang memiliki kemampuan dan akhlak mulia yang nantinya dapat menggantikan generasi-generasi sebelumnya. Intinya mahasiswa itu merupakan aset, cadangan, harapan bangsa untuk masa depan. Tak dapat dipungkiri bahwa seluruh organisasi yang ada akan bersifat mengalir, yaitu ditandai dengan pergantian kekuasaan dari golongan tua ke golongan muda, oleh karena itu kaderisasi harus dilakukan terus-menerus. Dunia kampus dan kemahasiswaannya merupakan momentum kaderisasi yang sangat sayang bila tidak dimanfaatkan bagi mereka yang memiliki kesempatan.
Dalam konsep Islam sendiri, peran pemuda sebagai generasi pengganti tersirat dalam Al-Maidah:54, yaitu pemuda sebagai pengganti generasi yang sudah rusak dan memiliki karakter mencintai dan dicintai, lemah lembut kepada orang yang beriman, dan bersikap keras terhadap kaum kafir.
Sejarah telah membuktikan bahwa di tangan generasi mudalah perubahan-perubahan besar terjadi, dari zaman nabi, kolonialisme, hingga reformasi, pemudalah yang menjadi garda depan perubah kondisi bangsa.
Lantas sekarang apa yang kita bisa lakukan dalam memenuhi peran Iron Stock tersebut ? Jawabannya tak lain adalah dengan memperkaya diri kita dengan berbagai pengetahuan baik itu dari segi keprofesian maupun kemasyarakatan, dan tak lupa untuk mempelajari berbagai kesalahan yang pernah terjadi di generasi-generasi sebelumnya.
Lalu kenapa harus Iron Stock ?? Bukan Golden Stock saja, kan lebih bagus dan mahal ?? Mungkin didasarkan atas sifat besi itu sendiri yang akan berkarat dalam jangka waktu lama, sehingga diperlukanlah penggantian dengan besi-besi baru yang lebih bagus dan kokoh. Hal itu sesuai dengan kodrat manusia yang memiliki keterbatasan waktu, tenaga, dan pikiran.
1.2 Mahasiswa Sebagai “Guardian of Value”
Mahasiswa sebagai Guardian of Value berarti mahasiswa berperan sebagai penjaga nilai-nilai di masyarakat. Lalu sekarang pertanyaannya adalah, “Nilai seperti apa yang harus dijaga ??” Untuk menjawab pertanyaan tersebut kita harus melihat mahasiswa sebagai insan akademis yang selalu berpikir ilmiah dalam mencari kebenaran. Kita harus memulainya dari hal tersebut karena bila kita renungkan kembali sifat nilai yang harus dijaga tersebut haruslah mutlak kebenarannya sehingga mahasiswa diwajibkan menjaganya.
Sedikit sudah jelas, bahwa nilai yang harus dijaga adalah sesuatu yang bersifat benar mutlak, dan tidak ada keraguan lagi di dalamnya. Nilai itu jelaslah bukan hasil dari pragmatisme, nilai itu haruslah bersumber dari suatu dzat yang Maha Benar dan Maha Mengetahui.
Selain nilai yang di atas, masih ada satu nilai lagi yang memenuhi kriteria sebagai nilai yang wajib dijaga oleh mahasiswa, nilai tersebut adalah nilai-nilai dari kebenaran ilmiah. Walaupun memang kebenaran ilmiah tersebut merupakan representasi dari kebesaran dan keeksisan Allah, sebagai dzat yang Maha Mengetahui. Kita sebagai mahasiswa harus mampu mencari berbagai kebenaran berlandaskan watak ilmiah yang bersumber dari ilmu-ilmu yang kita dapatkan dan selanjutnya harus kita terapkan dan jaga di masyarakat.
Pemikiran Guardian of Value yang berkembang selama ini hanyalah sebagai penjaga nilai-nilai yang sudah ada sebelumya, atau menjaga nilai-nilai kebaikan seperti kejujuran, kesigapan, dan lain sebagainya. Hal itu tidaklah salah, namun apakah sesederhana itu nilai yang harus mahasiswa jaga ? Lantas apa hubungannya nilai-nilai tersebut dengan watak ilmu yang seharusnya dimiliki oleh mahasiswa ? Oleh karena itu saya berpendapat bahwa Guardian of Value adalah penyampai, dan penjaga nilai-nilai kebenaran mutlak dimana nilai-nilai tersebut diperoleh berdasarkan watak ilmu yang dimiliki mahasiswa itu sendiri. Watak ilmu sendiri adalah selalu mencari kebanaran ilmiah.
Penjelasan Guardian of Value hanya sebagai penjaga nilai-nilai yang sudah ada juga memiliki kelemahan yaitu bilamana terjadi sebuah pergeseran nilai, dan nilai yang telah bergeser tersebut sudah terlanjur menjadi sebuah perimeter kebaikan di masyarakat, maka kita akan kesulitan dalam memandang arti kebenaran nilai itu sendiri.
1.3 Mahasiswa Sebagai “Agent of Change”
Mahasiswa sebagai Agent of Change,,, hmm.. Artinya adalah mahasiswa sebagai agen dari suatu perubahan. Lalu kini masalah kembali muncul, “Kenapa harus ada perubahan ???”. Untuk menjawab pertanyaan itu mari kita pandang kondisi bangsa saat ini. Menurut saya kondisi bangsa saat ini jauh sekali dari kondisi ideal, dimana banyak sekali penyakit-penyakit masyarakat yang menghinggapi hati bangsa ini, mulai dari pejabat-pejabat atas hingga bawah, dan tentunya tertular pula kepada banyak rakyatnya. Sudah seharusnyalah kita melakukan terhadap hal ini. Lalu alasan selanjutnya mengapa kita harus melakukan perubahan adalah karena perubahan itu sendiri merupakan harga mutlak dan pasti akan terjadi walaupun kita diam. Bila kita diam secara tidak sadar kita telah berkontribusi dalam melakukan perubahan, namun tentunya perubahan yang terjadi akan berbeda dengan ideologi yang kita anut dan kita anggap benar.
Perubahan merupakan sebuah perintah yang diberikan oleh Allah swt. Berdasarkan Qur’an surat Ar-Ra’d : 11, dimana dijelaskan bahwa suatu kaum harus mau berubah bila mereka menginginkan sesuatu keadaan yang lebih baik. Lalu berdasarkan hadis yang menyebutkan bahwa orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin adalah orang yang beruntung, sedangkan orang yang hari ini tidak lebih baik dari kemarin adalah orang yang merugi. Oleh karena itu betapa pentingnya arti sebuah perubahan yang harus kita lakukan.
Mahasiswa adalah golongan yang harus menjadi garda terdepan dalam melakukan perubahan dikarenakan mahasiswa merupakan kaum yang “eksklusif”, hanya 5% dari pemuda yang bisa menyandang statusmahasiswa, dan dari jumlah itu bisa dihitung pula berapa persen lagi yang mau mengkaji tentang peran-peran mahasiswa di bangsa dan negaranya ini. Mahasiswa-mahasiswa yang telah sadar tersebut sudah seharusnya tidak lepas tangan begitu saja. Mereka tidak boleh membiarkan bangsa ini melakukan perubahan ke arah yang salah. Merekalah yang seharusnya melakukan perubahan-perubahan tersebut.
Perubahan itu sendiri sebenarnya dapat dilihat dari dua pandangan. Pandangan pertama menyatakan bahwa tatanan kehidupan bermasyarakat sangat dipengaruhi oleh hal-hal bersifat materialistik seperti teknologi, misalnya kincir angin akan menciptakan masyarakat feodal, mesin industri akan menciptakan mayarakat kapitalis, internet akan menciptakan menciptakan masyarakat yang informatif, dan lain sebagainya. Pandangan selanjutnya menyatakan bahwa ideologi atau nilai sebagai faktor yang mempengaruhi perubahan. Sebagai mahasiswa nampaknya kita harus bisa mengakomodasi kedua pandangan tersebut demi terjadinya perubahan yang diharapkan. Itu semua karena kita berpotensi lebih untuk mewujudkan hal-hal tersebut.
Sudah jelas kenapa perubahan itu perlu dilakukan dan kenapa pula mahasiswa harus menjadi garda terdepan dalam perubahan tersebut, lantas dalam melakukan perubahan tersebut haruslah dibuat metode yang tidak tergesa-gesa, dimulai dari ruang lingkup terkecil yaitu diri sendiri, lalu menyebar terus hingga akhirnya sampai ke ruang lingkup yang kita harapkan, yaitu bangsa ini.
2. Fungsi Mahasiswa
Berdasarkan tugas perguruan tinggi yang diungkapkan M.Hatta yaitu membentuk manusisa susila dan demokrat yang
  1. Memiliki keinsafan tanggung jawab atas kesejahteraan masyarakat
  2. Cakap dan mandiri dalam memelihara dan memajukan ilmu pengetahuan
  3. Cakap memangku jabatan atau pekerjaan di masyarakat
Berdasarkan pemikiran M.Hatta tersebut, dapat kita sederhanakan bahwa tugas perguruan tinggi adalah membentuk insan akademis, yang selanjutnya hal tersebut akan menjadi sebuah fungsi bagi mahasiswa itu sendiri. Insan akademis itu sendiri memiliki dua ciri yaitu : memiliki sense of crisis, dan selalu mengembangkan dirinya.
Insan akademis harus memiliki sense of crisis yaitu peka dan kritis terhadap masalah-masalah yang terjadi di sekitarnya saat ini. Hal ini akan tumbuh dengan sendirinya bila mahasiswa itu mengikuti watak ilmu, yaitu selalu mencari pembenaran-pembenaran ilmiah. Dengan mengikuti watak ilmu tersebut maka mahasiswa diharapkan dapat memahami berbagai masalah yang terjadi dan terlebih lagi menemukan solusi-solusi yang tepat untuk menyelesaikannya.
Insan akademis harus selalu mengembangkan dirinya sehingga mereka bisa menjadi generasi yang tanggap dan mampu menghadapi tantangan masa depan.
Dalam hal insan akademis sebagai orang yang selalu mengikuti watak ilmu, ini juga berhubungan dengan peran mahasiswa sebagai penjaga nilai, dimana mahasiswa harus mencari nilai-nilai kebenaran itu sendiri, kemudian meneruskannya kepada masyarakat, dan yang terpenting adalah menjaga nilai kebenaran tersebut.
3. Posisi Mahasiswa
Mahasiswa dengan segala kelebihan dan potensinya tentu saja tidak bisa disamakan dengan rakyat dalam hal perjuangan dan kontribusi terhadap bangsa. Mahasiswa pun masih tergolong kaum idealis, dimana keyakinan dan pemikiran mereka belum dipengarohi oleh parpol, ormas, dan lain sebagainya. Sehingga mahasiswa menurut saya tepat bila dikatakan memiliki posisi diantara masyarakat dan pemerintah.
Mahasiswa dalam hal hubungan masyarakat ke pemerintah dapat berperan sebagai kontrol politik, yaitu mengawasi dan membahas segala pengambilan keputusan beserta keputusan-keputusan yang telah dihasilkan sebelumnya. Mahasiswa pun dapat berperan sebagai penyampai aspirasi rakyat, dengan melakukan interaksi sosial dengan masyarakat dilanjutkan dengan analisis masalah yang tepat maka diharapkan mahasiswa mampu menyampaikan realita yang terjadi di masyarakat beserta solusi ilmiah dan bertanggung jawab dalam menjawab berbagai masalah yang terjadi di masyarakat.
Mahasiswa dalam hal hubungan pemerintah ke masyarakat dapat berperan sebagai penyambung lidah pemerintah. Mahasiswa diharapkan mampu membantu menyosialisasikan berbagai kebijakan yang diambil oleh pemerintah. Tak jarang kebijakan-kebijakan pemerintah mengandung banyak salah pengertian dari masyarakat, oleh karena itu tugas mahasiswalah yang marus “menerjemahkan” maksud dan tujuan berbagai kebijakan kontroversial tersebut agar mudah dimengerti masyarakat.
Posisi mahasiswa cukuplah rentan, sebab mahasiswa berdiri di antara idealisme dan realita. Tak jarang kita berat sebelah, saat kita membela idealisme ternyata kita melihat realita masyarakat yang semakin buruk. Saat kita berpihak pada realita, ternyata kita secara tak sadar sudah meninggalkan idealisme kita dan juga kadang sudah meninggalkan watak ilmu yang seharusnya kita miliki. Contoh kasusnya yang paling gampang adalah saat terjadi penaikkan harga BBM beberapa bulan yang lalu.
Mengenai posisi mahasiswa saat ini saya berpendapat bahwa mahasiswa terlalu menganggap dirinya “elit” sehingga terciptalah jurang lebar dengan masyarakat. Perjuangan-perjuangan yang dilakukan mahasiswa kini sudah kehilangan esensinya, sehingga masyarakat sudah tidak menganggapnya suatu harapan pembaruan lagi. Sedangkan golongan-golongan atas seperti pengusaha, dokter, dsb. Merasa sudah tidak ada lagi kesamaan gerakan. Perjuangan mahasiswa kini sudah berdiri sendiri dan tidak lagi “satu nafas” bersama rakyat.

Sumber : Geowana Yuka Purmana


Tindakan Mahasiwa Menghadapi hal negatif



Fenomena yang terjadi pada zaman sekarang ini telah terlihat bahwa arus globalisasi masuk dengan derasnya. Tanpa adanya filterisasi yang kuat dan penanaman moral, agama dan nilai-nilai sosial yang kuat, kita akan terjerumus di dalamnya. Sudah sering sekali juga kita jumpai tempat-tempat hiburan malam seperti diskotik, pub, cafe, dan kemungkinan tempat-tempat prostitusi. Narkotika dan obat-obatan yang terlarang tak luput jua dari sebuah fenomena kini. Era globalisasi besar saat ini mengancam penerus bangsa membuat sebuah kekacauan di dunia masyarakat. Ke khawatiran yang lainnya juga penaman jiwa mahasiswa dan tugas-tugas yang diemban dalam ranah berkewarganegaraan. Mahasiswa sebagai pengontrol kebijakan pemerintah kini tidak lagi tampak taringnya. Ini adalah hal substansi kedua dimana tugas-tugas mahasiswa yang pokok selain belajar. Masalah krusial ini harus disadarkan kembali kepada mahasiswa dengan berbagai macam cara, salah satunya adalah pendekatan secara psikologis. Pemberdayaan mahasiswa melalui sektor informal akan lebih bersinergi, melalui ranah aktivitas-aktivitas kampus, maupun luar kampus. Ini akan lebih efektif daripada hanya kuliah dan setelah kuliah lalu pulang. Pendidik disini seharusnya memberikan sebuah pengarahan yang signifikan terhadap mahasiswa, dan memberikan sebuah celah-celah kegiatan yang berhubungan dengan akademisi. Hal-hal tersebut akan membuat sebuah kemandirian dan rasa tanggung jawab yang penuh yang berfungsi di masyarakat di masa depannya.
Dalam dunia teknologi, internet merupakan sebuah contoh paling sukses dari usaha investasi yang tak pernah henti dan komitmen untuk melakukan riset berikut pengembangan infrastruktur teknologi informasi. Dimulai dengan penelitian packet switching (paket pensaklaran), pemerintah, industri dan para civitas academica telah bekerjasama berupaya mengubah dan menciptakan teknologi baru yang menarik ini. Internet dapat diartikan sebagai jaringan komputer luas dan besar yang mendunia, yaitu menghubungkan pemakai komputer dari suatu negara ke negara lain di seluruh dunia, dimana di dalamnya terdapat berbagai sumber daya informasi dari mulai yang statis hingga yang dinamis dan interaktif.
Beberapa manfaat internet yang mempunyai dampak positif yaitu :
1. Dalam dunia pendidikan : Akses ke sumber Informasi, Akses ke pakar dari suatu bidang ilmu, Media kerjasama antar para siswa, mahasiswa, guru, dosen, dsb.
2. Dengan adanya Internet, kita bisa mengetahui berita-berita teraktual hanya dengan meng-klik situs-situs berita yang ada. Atau mengetahui kurs mata uang dan perkembangan di lantai bursa. Dengan hadirnya e-commerce, kegiatan bisnis dapat dilakukan secara lintas kota, daerah, bahkan negara.
3. Sebagai media untuk mendapatkan Informasi untuk kehidupan pribadi, seperti misalnya : Kesehatan, Rekreasi, Hobby, Pengembangan diri, Rohani, Sosial.
4. Sebagai media untuk kehidupan profesional/ Pekerja, seperti misalnya : Sains, Teknologi, Perdagangan, Saham, Komoditas, Berita bisnis, Asosiasi Profesi, Berbagai Forum Komunikasi.
Manfaat Negatif
Selain mempunyai dampak positif, internet juga mempunyai dampak positif bila digunakan dengan tidak bijak diantaranya :
1. Kejahatan Seksualitas : penyebaran situs-situs yang mengandung unsur pornografi dan pornoaksi.
2. Kejahatan Perbankan : termasuk di dalamnya pencurian nomor kredit. Hacking (Memasuki, Memodifikasi, atau merusak Homepage)
3. Penyerangan situs atau e-mail melalui virus atau spamming.
Mahasiswa sebagai kaum intelektual mempunyai peran ganda dalam kehidupan berinternet. Satu sisi bagaimana ia memanfa’atkan internet secara maksimal untuk menambah ilmu pengetahuan, wawasan berfikir dan pengembangan intelektualitas. Di sisi lain ia sebagai generasi terdidik dan menjadi harapan bangsa di masa depan agar ikut mengkampanyekan upaya pencegahan penyalahgunaan internet
Mahasiswa merupakan suatu elemen masyarakat yang unik. Jumlahnya tidak banyak, namun sejarah menunjukkan bahwa dinamika bangsa ini tidak lepas dari peran mahasiswa. Walaupun jaman terus bergerak dan berubah, namun tetap ada yang tidak berubah dari mahasiswa, yaitu semangat dan idealisme. Semangat-semangat yang berkobar terpatri dalam diri mahasiswa, semangat yang mendasari perbuatan untuk melakukan perubahan-perubahan atas keadaan yang dianggapnya tidak adil. Mimpi-mimpi besar akan bangsanya. Intuisi dan hati kecilnya akan selalu menyerukan idealisme. Mahasiswa tahu, ia harus berbuat sesuatu untuk masyarakat, bangsa dan negaranya. Demikianlah perjuangan mahasiswa dalam memperjuangkan idealismenya, untuk memerangi ketidakadilan. Namun demikian, perjuangan mahasiswa belumlah berakhir. Di masa sekarang ini, mahasiswa dihadapkan pada tantangan yang tidak kalah besar dibandingkan dengan kondisi masa lampau. Kondisi yang membuat Bangsa Indonesia terpuruk, yaitu masalah korupsi yang merebak di seluruh bangsa ini. Mahasiswa harus berpandangan bahwa korupsi adalah musuh utama bangsa Indonesia dan harus diperangi.
Adapun dampak dari korupsi bagi bangsa Indonesia sangat besar dan komplek. Menurut Soejono Karni, beberapa dampak korupsi adalah
a. rusaknya sistem tatanan masyarakat,
b. ekonomi biaya tinggi dan sulit melakukan efisiensi,
c. munculnya berbagai masalah sosial di masyarakat,
d. penderitaan sebagian besar masyarakat di sektor ekonomi, administrasi,
politik, maupun hukum,
e. yang pada akhirnya menimbulkan sikap frustasi, ketidakpercayaan, apatis
terhadap pemerintah yang berdampak kontraproduktif terhadap pembangunan.
Peran mahasiswa dalam pemberantasan korupsi, dalam lingkungan kampus untuk dapat berperan secara optimal dalam pemberantasan korupsi adalah pembenahan terhadap diri dan kampusnya. Dengan kata lain, mahasiswa harus mendemonstrasikan bahwa diri dan kampusnya harus bersih dan jauh dari perbuatan korupsi. Untuk mewujudkan hal tersebut, upaya pemberantasan korupsi dimulai dari awal masuk perkuliahan. Pada masa ini merupakan masa penerimaan mahasiswa, dimana mahasiswa diharapkan mengkritisi kebijakan internal kampus dan sekaligus melakukan pressure kepada pemerintah agar undang-undang yang mengatur pendidikan tidak memberikan peluang terjadinya korupsi. Di samping itu, mahasiswa melakukan kontrol terhadap jalannya penerimaan mahasiswa baru dan melaporkan kepada pihak-pihak yang berwenang atas penyelewengan yang ada. Selain itu, mahasiswa juga melakukan upaya edukasi terhadap rekan-rekannya ataupun calon mahasiswa untuk menghindari adanya praktik-praktik yang tidak sehat dalam proses penerimaan mahasiswa. Mahasiswa juga dapat melakukan peran edukatif dengan memberikan bimbingan dan penyuluhan kepada masyarakat baik pada saat melakukan kuliah kerja lapangan atau kesempatan yang lain mengenai masalah korupsi dan mendorong masyarakat berani melaporkan adanya korupsi yang ditemuinya pada pihak yang berwenang. Selanjutnya pada tahap akhir perkuliahan, dimana pada masa ini mahasiswa memperoleh gelar kesarjanaan sebagai tanda akhir proses belajar secara formal. Mahasiswa harus memahami bahwa gelar kesarjanaan yang diemban memiliki konsekuensi berupa tanggung jawab moral sehingga perlu dihindari upaya-upaya melalui jalan pintas.
Sumber referensi :